Kamis, 02 November 2017

1.000 Kampung Kreatif Segera Hadir di Kabupaten Bandung

(logo: net)
Menata wilayah agar memiliki daya tarik sekaligus untuk meningkatkan skill masyarakatnya saat ini tengah menjadi program Pemerintah Kabupaten Bandung. 

Untuk merealisikan hal tersebut sebanyak 1.000 kampung yang tersebar di 31 kecamatan dan 270 desa dan 10 kelurahan didaerahnya bakal segera diubah menjadi kampung kreatif secara bertahap.

Pembentukan kampung kreatif sendiri dibeberapa kota/ kabupaten di Indonesia memang menjadi salah satu langkah agar mendorong pengembangkan potensi daerah berawal dari lingkungan terkecil. Kehadiran kampung kreatif pun dinilai dapat memberi hal positif terhadap peningkatan kemampuan warganya.

Kepada penulis, Bupati Bandung Dadang M Naser menjelaskan 1.000 kampung kreatif dengan konsep tematik itu hadir untuk mendorong perekonomian rakyat diwilayahnya. Dia berharap program yang kini tengah masuk dalam pembuatan desain daerah yang dipimpinnya bisa lebih tertata.

Dadang mengatakan dengan hadirnya 1.000 kampung kreatif visi Kabupaten Bandung menarik wisatawan berkunjung dapat terdongkrak . Apalagi, daerahnya telah dikenal sebagai surga objek wisata alam. "Kini kami tengah persiapkan rencana untuk pembangunan kota berbasis kampung itu," ujarnya.

Menurut Dadang, dengan berbagai banyak potensi yang dapat digali tentu memberikan peluang besar bagi pemerintah mendapat income lebih besar. Termasuk mendorong dan meningkatkan kesejahteraan warganya. 

"Kami ingin tak hanya wisata alamnya saja yang dikenal dari Kabupaten Bandung, tapi wisata belanja, kemudian wisata budayanya yang telah lama melekat di Kabupaten Bandung," ungkap dia. 

Kampung Mekarlaksana Jadi Percontohan Kampung KB
 
Memasuki tahun 2017 ini ada sebuah kampung di Kabupaten Bandung yang menjadi pilot project (percontohan) nasional sebagai Kampung Keluarga Berencana (KB).  Kampung itu adalah Kampung Mekarlaksan yang berada di Desa Citaman, Kecamatan Nagreg.

Ketua Pusat Pelayanan Terhadap Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bandung Kurnia Naser mengatakan, tahun ini ada 62 lokasi yang berada di 31 kecamatan akan menjadi target pembentukan Kampung KB yang salah satu diantaranya dikawasan Nagreg untuk pilot project. 

Pembentukan kampung tersebut, lanjut dia, untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di level terendah. Pihaknya ingin lebih memprioritaskan pembentukan kampung KB di wilayah dengan kriteria daerah miskin, padat penduduk, kumuh, dan di perbatasan. 

"Kami juga ingin mewujudkan keluarga kecil berkualitas dengan semangat sabilulungan dan kemandirian yang tentu sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)," katanya.

Rabu, 01 November 2017

29 Daerah Bakal Mereplikasi Aplikasi Milik Kota Bandung

(foto: dok. Humas Pemkot Bandung)
Sebanyak 29 daerah yang tersebar di Jawa Barat (Jabar), Banten, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam waktu dekat akan mereplikasi beberapa layanan aplikasi milik Kota Bandung.

Daerah yang kini dipimpin Ridwan Kamil dan Oded M Danial itu dinilai memiliki beberapa sistem berupa aplikasi yang sejalan dengan tugas KPK. Salah satu diantaranya berfungsi untuk mencegah serta memberantas praktik korupsi.

Usai penandatanganan MoU, Ridwan mengatakan, bila KPK merekomendasikan agar inovasi smart city Kota Bandung bisa direplikasi oleh kota/kabupaten lain di Indonesia.

"KPK telah memberikan apresiasi kepada Kota Bandung. Tugas KPK itu kan tidak hanya di penindakan tetapi juga di pencegahan,” ungkapnya.

Sesusai dengan kesepakatan bersama, lanjut dia, aplikasi yang akan direplikasi oleh 29 daerah antara lain Hayu!, e-Remunerasi Kinerja (e-RK), dan Sabilulungan.

"Untuk, aplikasi Hayu! merupakan media untuk mengajukan perijinan usaha dengan modal di atas Rp500 juta secara online," katanya.

Lelaki yang akrab disapa Emil itu menjelaskan, melalui aplikasi yang tinggal mengunduh calon pengusaha tidak perlu datang ke kantor pemerintah untuk mengurus berbagai perijinan.

"Karena prosesnya bisa dilakukan secara online sehingga bisa mencegah pertemuan," ucapnya.

Emil menambahkan, aplikasi lainnya yaitu e-RK. Aplikasi tersebut adalah perangkat lunak untuk memantau kinerja aparatur pemerintah.

"Dengan aplikasi itu pimpinan SKPD bisa memastikan para ASN bekerja sesuai tugasnya. Kami berhasil punya sistem memastikan orang bekerja efisien," kata dia.

Aplikasi selanjutnya Sabilulungan, lanjut dia, untuk memfasilitasi hibah dan bantuan sosial (bansos). Melalui aplikasi tersebut, pemohon hibah bisa melakukan pengajuan dana sekaligus melacak proses pengajuannya.

"Dengan aplikasi itu (Sabilulungan) proses pemberian dana hibah tentu transparan," jelasnya.

(foto: dok. Humas Pemkot Bandung)
Ditempat yang sama, Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengamini adanya rekomendasi agar beberpa kota/kabupaten merujuk konsep smart city seperti yang diterapkan Bandung.

"Tujuannya agar sistem yang selama ini manual dan mengandalkan manusia bisa dialihkan ke teknologi," katanya.

Laode mengapresiasi Pemerintah Kota Bandung yang bersedia membukakan pintu bagi KPK dan pemerintah kota/kabupaten di Indonesia memiliki sistem yang serupa dengan Bandung. Aplikasi itu juga akan direplikasi KPK untuk kemudian dipakai oleh pemerintah daerah lain.

“Karena kami melihat aplikasi itu bisa mencegah dan memberantas korupsi jika dipergunakan dengan baik,” katanya.

Inilah Sosok Pertama Yang Mengembangkan Batik Cimahi

(foto: Ria Triwanto/ dok penulis)
Pernah mendengar batik asli Cimahi salah satu kota yang berada di provinsi Jawa Barat? bila iya mungkin tak banyak yang tahu bila ada sosok yang pertama kali mengembangkan busana tersebut hingga akhirnya populer.

Ria Triwanto, 49, adalah orang itu. Bahkan, atas pencapaian dan kontribusinya Pemkot Cimahi memberikan piagam penghargaan bagi Ria sebagai pengusaha yang pertama kali mengembangkan dan memperkenalkan batik Cimahi.

Kepada penulis, Ria bercerita bila awal karirnya dimulai pada tahun 2009 lalu. Kecintaannya dibidang fashion memantapkan hatinya untuk terjun membuka usaha. Alasannya, memilih mengembangkan busana batik karena memiliki nilai tinggi serta merupakan salah satu identitas negeri sendiri.

Ria yang telah lebih dari 20 tahun menetap di Cimahi itu tak menyangka jikalau design yang dibuatnya sesuai dengan identitas Kota Cimahi yakni motif Kujang, Ciawitali, Curug Cimahi, Pusdik (motif militer) serta yang paling dikenal adalah daun singkong.

Kendati masih berbentuk 'home industri' pesanan dari beberapa kota, serta luar pulau pun ternyata mengalir deras padanya. "Mulai dari konsumen yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, hingga Irian jaya pernah memesan batik khas Cimahi," ujar lulusan STT Tekstil Kota Bandung Jurusan Kimia tahun 1990 itu.

Disatu sisi, Ria mengaku tak pernah bermimpi hasil kreasinya berbuah manis seperti sekarang ini. Terlebih dapat membantu suatu daerah dalam mengenalkan identitasnya melalui busana batik.

"Tentunya ini menjadi kebanggaan tersendiri.  Sebetulnya misi saya hanya berharap dapat memberi inspirasi bagi penggiat usaha serta mengaplikasikan hobi dalam berbisnis," tutur Ibu dari 2 anak itu.

Ria optimis dapat tetap bersaing dengan para penggiat usaha lain termasuk sesama pembisnis dibidang fashion. Sebab, membedakan industri yang saat ini dijalankannya punya ciri khas mengusung nuansa Kota Cimahi.

Selain mengembangkan batik khas Cimahi, Ria pun kini mulai membidik strategi lain yakni menerima pesanan pembuatan batik dari para konsumen termasuk beberapa daerah sesuai dengan permintaan kepadanya.

"Sempat ada permintaan dari Pemkab Bandung Barat dan Pemrpov Jabar juga yang menggunakan jasa kami membuat motif batik," tandasnya.

Kawah Rengganis Jadi Objek Wisata Baru di Bandung Selatan

(foto: Kawah Rengganis atau Kawah Cibuni/ dok penulis)
Bandung selatan memang dikenal sebagai kawasan yang memiliki segudang objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Alhasil setiap musim liburan wilayah yang masuk ke Kabupaten Bandung itu selalu diserbu.

Tak hanya wisatawan dalam kota, luar kota, hingga mancanegara yang berniat untuk menghabiskan waktu menikmati pemandangan alam berbondong-bondong memadati sejumah objek wisata alam.

Namun tahukah anda, bila saat ini hadir sebuah objek wisata alam baru yang dalam kurun waktu tiga tahun terakhir menyedot perhatian. Objek wisata itu adalah Kawah Rengganis atau Kawah Cibuni di Kecamatan Rancabali.

Di objek wisata yang dulunya merupakan situs cagar budaya itu pengunjung bisa mandi air panas dari talang bambu yang ditampung dalam beberapa kolam sederhana. Sambil berendem pengunjung pun dapat menikmati udara segar diantara kepulan asap belerang dan hijaunya hutan Gunung Patuha.

Meski belum dilengkapi dengan fasilitas modern justru kesederhanaan serta suasana alamiah di kawah Rengganis memberikan sensasi berbeda sehingga membawa wisatawan merasakan hal baru ketika berwisata.

Dengan harga tiket masuk sebesar Rp 12.000 per orang, para wisatawan sudah bebas menikmati keajaiban alam yang ada dikawasan kawah yang masih beraroma belerang sangat kuat itu. Keberadaan kawah ini juga tentu menjadi referensi bagi para wisatawan yang akan berlibur.

(foto: Kawah Rengganis atau Kawah Cibuni/ dok penulis)
Juru Kunci Kawah Rengganis/Cibuni Asep Suhendar menuturkan kedatangan para pengunjung selain untuk menikmati alam, tak sedikit juga yang melakukan ziarah. "Disini memang banyak warisan leluhur berupa situs situs. Memang dulu tempat ziarah tapi kini jadi objek wisata begitu dikeola PTPN VIII," ujar Asep.

Dari pengamatan Asep, banyak wisatawan yang mendatangi kawasan Cibuni atau kini dikenal senagi Kawah Rengganis bukan hanya warga lokal. Akan tetapi, dari luar kota hingga mancanegara sempat datang untuk berlibur.

"Seperti turis asal Belanda sempat datang karena penasaran. Tapi memang belum banyak yang kesini seperti ke objek wisata lain bila harus dibandingkan ya seperti kawah putih, atau tempat pemandian lain di Ciwidey," katanya.

Selasa, 31 Oktober 2017

Kota Bandung Jadi Daerah Pertama Miliki Komisi Lansia

(foto: dok. Humas Pemkot Bandung)
Dari 27 Kota/ Kabupaten di Jawa Barat (Jabar) Kota Bandung menjadi yang pertama memiliki Komisi Daerah Lanjut Usia (Lansia). Hal tersebut setelah adanya pembentukan resmi para anggota komisi yang nantinya akan fokus menangani para kaum manula khususnya yang berada di Kota Kembang.

Hadirnya, Komisi Daerah Lansia itu pun untuk menyatukan seluruh kekuatan di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam memberikan ruang perhatian seperti kegiatan terhadap lansia. Sehingga keinginan dan harapan hidup para lansia lebih tinggi.

Dalam rilis yang diterima penulis, Wali Kota Bandung M Ridwan Kamil berharap dengan pengukuhan komisi ini lansia didaerahnya menjadi lebih bahagia dan nyaman tinggal. "Alhamdulillah kota Bandung kota pertama yang melaksanakan rakor dan pengukuhan (komisi lansia) ini," ujar Ridwan di Balai Kota Bandung.

Lelaki yang akrab disapa Kang Emil itu mengatakan pembentukan komisi daerah lansia juga sekaligus demi mewujudkan Bandung menjadi Kota Ramah Lansia. Dirinya akan terus melakukan pembenahan untuk merealisikan hal itu.

"Ada beberapa indikator yang harus dibenahi, diantaranya ruang terbuka untuk lansia, transportasi nyaman, perumahan, partisipasi sosial, inklusi keterlibatan sosial, partisipasi sipil dan pekerjaan, serta dukungan layanan kesehatan," tuturnya.

(foto: dok. Humas Pemkot Bandung)
Ketua Komisi Daerah Lansia Kota Bandung Oded M Danial menyampaikan, pengukuhan sekaligus ini merupakan kegiatan yang luar biasa khususnya sebab mendapatkan amanah mengurus kaum lansia di Kota Bandung.

"Hal ini luar biasa, karena dalam Al Qur'an dan tafsir menjelaskan, satu satunya pesan yang Allah sampaikan kepada umat manusia dalam Al Qur'an adalah agar seluruh umat manusia bersikap memuliakan orang tua," ungkapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebagai kepedulian terhadap kaum lansia, Pemerintah Kota Bandung meluncurkan gerakan Bandung Cinta Lansia. Gerakan tersebut terdiri dari program Aku Cinta Lansia dan pembentukan Sahabat Peduli Lansia.

Diibukota Jawa Barat ini pun setiap lansia yang tidak memiliki sanak-saudara akan ditemani oleh relawan untuk melaksanakan aktivitas yang menyenangkan, Mulai dari berolah raga, hingga berjalan-jalan selama seharian penuh. Tercatat, telah ada lebih dari 2.100 relawan yang siap menjalankan program ini.

Padi Organik Antarkan Tuti Bertemu Jokowi di Istana

(foto: Tuti Waryati, warga Kabupaten Bandung yang beruntung bisa bertemu langsung dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo/ istimewa)
Tuti Waryati, 64, menjadi salah satu warga Kabupaten Bandung yang beruntung bisa bertemu langsung dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara beberapa waktu yang lalu.

Ibu rumah tangga itu terpilih bersama 14 petani lain ditanah air yang meraih Adhikarya Pangan Nusantara 2015 lalu. Tuti sendiri menjadi salah satu yang mendapat penghargaan karena mengembangkan beras merah organik bersama Kelompok Tani Organik Sarinah yang berada di Kecamatan Ciparay.

Saat berbincang dengan penulis, Tuti mengaku sangat takjub bisa bertatap muka dengan orang nomor satu di negeri ini. Bukan hanya itu saja, yang paling mengejutkannya dia ditunjuk langsung maju dan berdialog dengan Jokowi.

"Pak Jokowi bertanya, siapa petani organik waktu itu? Saya lalu mengacungkan tangan. Eh langsung diminta maju kedepan. Awalnya, memang canggung sih tapi ternyata beliau sosok yang ramah dan suka bercanda," ungkapnya.

Tuti bercerita kala itu Jokowi bertanya seputar produksi, dan luas lahan padi organik yang dikembangkannnya bersama kelompok tani yang telah dibentuknya sejak 2009 lalu. Dirinya pun menjelaskan kepada orang nomor satu di negeri itu secara garis besar.

"Saya langsung menjawab pada presiden bahwa produksi padi organik yang kami kembangkan mencapai 107 ton dari luas lahan 13,7 hektare. Jika dirata-ratakan, perhektarenya mencapai 7,5 - 8,5 ton," katanya.

Kepada Presiden, Tuti pun menuturkan jikalau padi organik lebih menguntungkan ketimbang dengan produk padi pada umumnya. Sebab bila dihitung padi biasa hanya memproduksi sekitar 4 ton hingga 5 ton per hektare.

"Akan tetapi menggunakan pola pertanian organik membuat mikro organisme lokal (MOL) buatan kelompoknya, produksi meningkat 100%," ungkapnya.

Selama fokus mengembangkan padi organik Tuti juga telah menyabet berbagai penghargaan baik itu dari Pemerintah Kabupaten Bandung, serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dengan penghargaan dari pemerintah pusat kali ini dirinya juga ikut bangga dan akan tetap konsisten meningkatkan kualitas padinya.

"Karena jujur saja saya tak pernah bermimpi bila jerih payah ini akhirnyabisa menghantarkan bertemu dengan presiden," tuturnya.

Tuti pun bahagia karena presiden memerintahkan Kementerian Pertanian untuk mengakomodir permintaan para petani demi memaksimalkan produksi padi organik yang dikembangkannya.

"Yang pasti perhatian ppemerintah untuk meningkatkan produksi padi organik kedepannya," ungkap warga Desa Manggung Harja, Kecamatan Ciparay itu.

Hindari Zat Berbahaya Masyarakat Jangan Malu Bertanya

Sebagai konsumen masyarakat diminta cerdas dalam memilih makanan bagi kesehatan. Bila merasa curiga dari makanan yang akan dikonsumsi, disarankan langsung bertanya kepada penjual.

Hal tersebut agar terhindar dari dampak yang ditimbulkan terutama panganan yang mengandung zat berbahaya.

Selain itu, masyarakat juga diharapkan ikut berperan serta untuk mengawasi makanan atau jajanan yang dikonsumsinya. Termasuk segera melaporkan jika menemukan maupun melihat adanya praktik dari oknum penjual yang mencampurkan zat berbahaya meski telah dilarang demi meraup untung.

Kepada penulis, Kepala BPOM Bandung, Jawa Barat, Abdul Rochim akan terus melakukan sosialisasi secara berkala agar masyarakat bisa perlahan teredukasi dan lebih pro aktif dalam mengawasi semua makanan yang ada di sekitarnya.

"Karena berdasarkan pantauan kami dilapangan, saat ini masih banyak terjadi pelanggaran (produsen) saat memproduksi panganan sehingga tidak aman di konsumsi. Untuk itu sekarang ayo masyarakat peduli lah," ujar Abdul.

Menurut dia, di awal tahun 2017 ini instansinya sempat menemukan oknum yang mengumpulkan makanan kadaluarsa. Bahkan, sesuai penelusuran oknum (distributor) tersebut nekad menghapus tanggal masa layak konsumsi yang telah tertera dalam makanan sebelum memasarkan.

"Jumlahnya cukup banyak waktu itu kami sita sampai 2 truk besar. Itu (kasus) berada dikawasan Cirebon. Belum lagi, rentetan kasus yang setiap tahun terus terulang seperti peredaran makanan mengandung zat berbahaya yang selalu kami temukan," terang Abdul.

Dalam setiap kegiatan pengujian makanan, Abdul masih menemukan adanya panganan milik para pedagang yang mengandung pewarna berbahaya, formalin, maupun borax.  "Untuk itu, Kami harap konsumen dalam hal ini masyarakat jangan malu bertanya soal makanan yang akan dibeli," ungkap dia.

Abdul menambahkan, instansinya sulit  seandainya harus memetakan atau mendeteksi panganan berbahaya wilayah di Jawa Barat sebelum beredar ke pasaran. Pasalnya, berdasarkan persentase dalam kurun waktu 2 tahun terakhir peredaran makanan berzat berbahaya atau kadaluarsa potensinya sama.

"Ya agak sulit bila mengawasi satu persatu (daerah). Apalagi yang jadi pantauan kami (BPOM) juga kan obat obatan dan kosmetik berbahaya yang harus pula di waspadai masyarakat. Jadi perlu ada peran semua pihak," tandasnya.

Peringati Maulid Nabi, Oded Ajak Umat Muslim Ikuti Jejak Nabi Muhammad SAW

(Wali Kota Bandung Oded M Danial) Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Wali Kota Bandung Oded M Danial mengajak umat muslim mengikuti jeja...