Senin, 22 Januari 2018

Kebun Binatang Mini di Taman Dewi Sartika


(foto: instagram/ istimewa)
Bila anda hendak mencari tempat berlibur bersama keluarga tanpa ingin terbebani dengan biaya besar sepertinya Taman Dewi Sartika Bandung dapat menjadi pilihan. Berada di Jalan Wastukencana, taman yang memiliki luas sekitar 4.300 meter persegi itu menghadirkan suasana baru.

Selain berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang nyaman untuk tempat beristirahat, kini berbagai hewan jenis unggas pun ada di area taman  di depan Kantor Wali Kota Bandung itu. Tak heran bila masyarakat menyebut salah satu taman tematik diibukota Jawa Barat itu sebuah Kebun Binatang mini.

Sebelum diresmikan di akhir tahun 2017 lalu taman yang memiliki nilai sejarah di Kota Kembang ini memang kurang dikenal bahkan jarang dikunjungi. Namun setelah adanya program revitalisasi oleh pemerintah setempat Taman Dewi Sartika selalu dipadati setiap waktu bukan hanya di akhir pekan saja.

Adanya beberapa satwa dalam kandang besar yang diisi dengan aneka jenis ternak mulai dari burung dan ayam yang bisa kita lihat sangsung saat menginjakan kaki di taman itu. Sehingga, menjadi solusi bagi yang ingin berwisata gratis seperti ke kebun binatang. Apalagi telah dilengkapi sarana bermain yang dikelilingi taman bunga.

Pengunjung yang memasuki Taman Dewi Sartika juga bisa sekaligus menikmati nuansa baru Taman Badak yang juga ikut direnovasi karena lokasinya bersebelahan. Diarea taman tersebut terdapat sebuah kolam bermain serta jaring LOVE yang dimanfaatkan kaula muda menggantungkan gembok cinta.

Beberapa waktu yang lalu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sempat menyampaikan bakal kembali menghadirkan satwa baru selain jenis unggas di area Taman Dewi Sartika. Selain itu dirinya juga bakal menata lahan parkir di area taman untuk digunakan sebagai terminal Bandung Tour on Bus (Bandros).

Nanti akan ada empat rusa sumbangan dari Yayasan Kebon Binatang Bandung," kata orang nomor satu di Kota Bandung itu saat meresmian dua taman hasil revitalisasi instansinya di Balai Kota.

Sabtu, 20 Januari 2018

Ibukota Jawa Barat Miliki Forest Walk Terpanjang se-Asia Tenggara

(foto: Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meninjau Forest Walk Babakan Siliwangi/ dok Humas Pemkot Bandung)
Ada kabar gembira bagi para wisatawan yang mencari lokasi berlibur dengan suasana sejuk di jantung Ibukota Jawa Barat. Pasalnya, kini telah hadir sebuah forest walk atau jembatan hutan yang terletak di kawasan Taman Hutan Kota Babakan Siliwangi (Baksil), Bandung.

Jembatan yang memiliki panjang sekitar 2 kilometer dengan ketinggian 3 meter itu pun dinilai menjadi yang terpanjang se-Asia Tenggara. Nah, sepanjang jembatan, pengunjung yang datang menghabiskan waktu kelokasi tersebut bisa menikmati sejuknya udara yang dikelilingi pohon dan satwa-satwa hutan.

Untuk diketahui, sebelum adanya pembangun Forest Walk Babakan Siliwangi hanya lah sebuah hutan kota di Kelurahan Babakan Siliwangi, Kecamatan Coblong. Namun seiring dengan adanya forest walk, Pemerintah Kota Bandung ingin menjadikan lokasi tersebut sebagai pilihan masyarakat berwisata.

Informasi yang dihimpun penulis, Forest Walk ini dibangun dengan menggunakan APBD selama dua tahapan. Pada tahun 2016 lalu pembangunan masuk tahap pertama dengan menelan anggran sebesar Rp 6,3 miliar. Pembangunan dilanjutkan tahun 2017 lalu dengan dana Rp 11,9 miliar.

Saat peresmian, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meminta agar masyarakat serta para pengunjung turut menjaga dan merawat kawasan Babakan Siliwangi. Tak hanya terhadap fasilitas forest walk tetapi juga kelestarian lingkungannya. Dia juga berharap setiap bulan ada pelepasan hewan di hutan tersebut.

“Tidak boleh merokok di Babakan Siliwangi ini. Saya juga titip tolong jaga kebersihannya. Tidak boleh buang sampah di sini. Saya ingin ini dirawat lahir batin selamanya. Titip, ya. Forest walk ini kita hadirkan fasilitas untuk mendekatkan manusia dengan alam tanpa merusak alam,” ujar Ridwan.

Orang nomor satu di Kota Bandung itu menyampaikan Forest Walk ini merupakan komitmennya kepada warga Kota Bandung untuk menyelamatkan hutan kota yang dulu sempat akan dijadikan kawasan komersial oleh swasta. Ini juga sebagai upaya menata kawasan dijantung ibukota Jawa Barat.

“Setelah jadi wali kota, di bulan Oktober 2014 saya berhasil melobi pengembangnya untuk tidak meneruskan (proyek) dan akhirnya mengembalikan Babakan Siliwangi secara permanen sebagai hutan kota yang kita lestarikan,” tegas lelaki yang akrab disapa Kang Emil itu.

Kamis, 18 Januari 2018

Asyiknya Berswafoto di Bukit Jamur Pasirjambu


(foto: Bukit Jamur Pasirjambu/ dok penulis)

Bagi para pemburu spot foto yang akan menghabiskan liburan di kawasan Bandung Selatan, rasanya tak akan lengkap bila belum menginjakan kaki di bukit unik yang berada di Desa Rancabolang, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung.

Pasalnya, bukit tersebut dihiasi puluhan jenis pohon cemara berbentuk seperti jamur. Fenomena bukit jamur ini mulai ramai diperbincangkan sejak beberapa traveller membagikan keindahan alamnya melalui akun media sosial pertengahan tahun lalu.

Mayoritas dari mereka menganggap bila objek wisata alam yang berada diantara kaki gunung tilu dan gunung patuha ini merupakan objek wisata anti mainstream. Selain bisa melihat keunikan pohon seperti jamur dengan ketinggian 5 meter hingga 10 meter sambil berswafoto wisatawan juga dapat menikmati hamparan perkebunan teh yang sejuk dan asri.

Tak heran memasuki awal tahun ini lokasi yang berada sekitar 15 kilometer dari Jalan Raya Soreang-Ciwidey itu selalu diserbu para kaula muda yang penasaran saat libur tiba. Pengunjung yang hendak mendatangi area perbukitan dibawah pengelolaan PTPN VIII ini tinggal membayar iuran sebesar Rp5.000 saja.

Uang tersebut digunakan untuk membantu proses perawatan dan pemeliharaan tanaman sekaligus kebersihan yang setiap hari menjadi tanggung jawab petugas keamanan setempat.

Saat berbincang, salah satu petugas Bah Erus mengaku kaget bila bukit yang kini populer dengan nama Bukit Jamur ini ternyata menjadi salah satu objek wisata baru di Bandung Selatan yang selalu dicari oleh masyarakat. Namun bukan dari warga sekitar tetapi para pengunjung yang datang berasal dari dari luar kota hingga mancanegara.

Ngga nyangka juga malah jadi objek wisata. Warga jojakarta, Bekasi, Padang, Pontianak, hingga wisatawan mancanegara dari Belanda pun sempat berdatangan dan meminta izin untuk berfoto diarea perbukitan ini. Katanya unik,” ujar Erus.

Erus bercerita sebenarnya tidak ada konsep khusus yang diterapkan di area perbukitan yang kini dijadikan sebagai hunian para pegawai perkebunan. Apalagi menjadikan sebagai objek wisata.

Mengenai pepohonan jenis cemara yang berbentuk jamur menurutnya karena sejak 20 tahun yang lalu pihak PTPN VIII memang menanam pohon tersebut dengan pola steak. 

"Akhir tahun lalu mulai ramai. Dan beberapa pekan terakhir ini semakin dibanjiri wisatawan. Kalau akhir pekan bisa sampai 100 orang yang datang. Berhubung memang belum dikomersilkan bukit ini masih seadanya belum ada fasilitas khusus atau sarana prasarana seperti objek wisata lain dikawasan Pacira (Pasirjambu, Ciwidey, Rancabali),” ungkapnya.

Bagi traveller yang baru mengetahui hadirnya objek wisata untuk bersantai tentu dapat mencobanya. Apalagi bisa beristirahat di badan rumput nan hijau dengan rimbunnya pohon cemara kerdil. Selain menjadi tempat untuk berselfie ria Bukit Jamur juga sering menjadi tempat foto para calon pengantin.

Senin, 15 Januari 2018

Berwisata Sambil Belajar Agrobisnis di Desa Lebak Muncang

(foto: Desa Wisata Lebak Muncang/ dok penulis)
Kawasan Bandung Selatan, Jawa Barat, memang telah dikenal sebagai salah satu surganya wisata alam. Tak heran setiap musim liburan tiba wilayah yang masuk ke Pemerintah Kabupaten Bandung itu sering diserbu masyarakat. 

Bukan hanya warga lokal, ribuan wisatawan luar kota serta mancanegara pun selalu berbondong-bondong memadati ibukota Soreang. Namun tahukah anda bila saat ini telah hadir sebuah desa wisata di Kampung Pameuntasan, Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey.

Lokasi objek wisata tersebut tak jauh dari objek wisata Kawah Putih dan pemandian air panas Cimanggu yang lebih dulu populer. Hal unik dan berbeda yang disiapkan di desa wisata itu lantaran mengedepankan agroedukasi dan orientasi sosial budaya.

Sesuai data dinas terkait desa wisata lebakmuncang sendiri menjadi salah satu desa dari 10 desa yang telah ditetapkan oleh Bupati Bandung Dadang M Naser sebagai pilot project (percontohan) untuk pembentukan wisata alam berbasis kampung. 

Adanya sajian paket homestay dan edukasi pertanian, dimana setiap wisatawan dapat tinggal bersama di rumah warga merupakan keunggulan lain di Desa Wisata Lebak Muncang.

Dengan tarif berkisar antara Rp150.000 hingga Rp650.000 perpaket para pengunjung bisa menikmati liburan di desa wisata itu. Edukasi pertanian, jungle track (menelusuri area perbukitan), cara untuk membuat makanan khas sunda, serta menikmati pertunjukan kesenian juga menjadi layanan lain yang dihadirkan di desa wisata itu.

Saat penulis menyambangi lokasi, Ketua Pokja Pengurus Desa Wisata Lebak muncang Ipin Setiawan mengatakan, bila objek wisata yang kini dikelolanya dengan warga sekitar mulai berdiri pada tahun 2010 lalu. Awalnya, untuk mengangkat potensi-potensi alam yang ada diwilayahnya.

"Tapi alhamdulilah jadi objek wisata baru yang ditunjuk pemerintah setempat," ujar Ipin saat berbincang.

Sejak hadir tujuh tahun lalu, lanjut Ipin, lebih dari 500 pengunjung yang mayoritas merupakan para rombongan pelajar datang belibur ke desa wisata Lebakmuncang yang mengedapankan wisata pendidikan.

"Jadi wisatawan kesini ikut aktifitas warga agar merasakan kehidupan di desa dengan azas kekeluargaan yang masih terjaga," kata dia.

Menurut Ipin, sebanyak 67 homestay milik warga bisa disinggahi pengunjung untuk paket wisata yang dikelolanya. Berbagai layanan seperti edukasi pertanian, kegiatan alam terbuka, mengenal budaya sunda bisa dinikmat wisatawan. 

"Banyak yang kesini mulai dari Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Kudus, Sulawesi hingga Singapura," ungkapnya.

Kedepan, tambah Ipin, pihaknya berharap agar pemerintah setempat bisa ikut serta membantu dalam pengembangan sekaligus memasarkan objek wisatanya. Mengingat belum semua wisatawan yang datang ke kawasan Ciwidey tahu keberadaan Desa Lebakmuncang.

"Semoga pengunjung bisa terus meningkat saat libur tiba dan ada peran serta dari pemerintah," tuturnya.

Meski tidak dilengkapi dengan fasilitas modern justru kesederhanaan ini yang memberikan kesan alami sehingga membawa wisatawan merasakan sensasi baru dalam berwisata. Pengunjung juga disambut dengan upacara adat layaknya pengantin saat hendak menginap diobjek wisata tersebut. Mereka juga dapat berinterakasi langsung dengan warga pribumi.

Sabtu, 06 Januari 2018

Dari Hobi Kini Jadi Profesi Menjanjikan

(foto: Oktalif Ridho Prayitno/ dok penulis)
Tak pernah dibayangkan oleh Oktalif Ridho Prayitno, 28, bila kegemarannya bermain game rupanya membuka peluang mendapatkan rezeki. Hal itu bermula saat dirinya mencoba mewujudkan tokoh permainan dalam bentuk nyata.

Saat itu, Ridho yang hanya lulusan SMA berdandan layaknya sosok dalam cerita animasi dan permainan jepang. Dengan dandanan ala tokoh kartun dirinya mulai mengikuti berbagai event dan lomba hingga akhirnya meraih prestasi.

Menyabet juara 3 di Magelang sebagai peserta yang memakai kostum terbaik hingga mendapat posisi sebagai runner-up the best cosplayer favorit diibukota DKI Jakarta merupakan sebagian kecil yang sempat diraih oleh Ridho.

Tak hanya itu, tawaran untuk mengisi acara dengan menggunakan dandanan ala tokoh dalam permainan itu pun ikut mengalir kepadanya setelah hampir dua tahun menekuni hobinya menjadi seorang Cosplay (Custumer Play).

Berawal dari situ, Ridho lalu ikut bergabung dengan komunitas cosplay yang ada di Cimahi untuk mengembangkan pengetahuannya. Saat berbincang dengan penulis, Ridho bercerita banyak tantangan, hinaan begitu memilih profesi ini.

"Memang ngga mudah meyakinkan bila hobi itu dapat menghasilkan tapi dengan kerja keras akhirnya saya bisa membuktikan termasuk kepada orang tua yang ikut meragukan pilihan jadi cosplay ini," kata Ridho.

(foto: Selain menjadi cosplay Ridho juga membuat kostum bagi cosplayer/ dok penulis)
Selain menjadi seorang cosplay maker hampir 8 tahun dirinya kini mencoba peruntungan lain dengan merancang desain khusus kostum bagi para Cosplayer dengan detail selengkap mungkin sesuai dengan pesanan yang diminta.

"Sekarang bertahap beberapa permintaan dari berbagai kota seperti Jakarta, Kalimantan, Sumatera, hingga ke negara Hongkong. Pemesan macem macem ada ada dari komunitas maupun perorangan," ungkap Ridho.

Lelaki kelahiran Jawa Tengah itu mengaku selalu memanfaatkan event untuk memasarkan hasil kreasinya membuat kostum berbagai tokoh animasi. "Saya sangat bersyukur karena memulai semuanya dari hanya sebatas hobi yang akhirnya mendapat penghasilan yang sangat menjanjikan," tandas Ridho.

Jumat, 05 Januari 2018

Peternak Kabupaten Bandung Kembangkan Energi Biogas

(foto; dok penulis)
Pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas terus dimaksimalkan oleh para petani di Kabupaten Bandung atas dukungan pemerintah setempat. Hal tersebut seiring dengan digulirkannya program Desa Mandiri Energi (DME) sejak tahun 2011 di daerah yang memiliki ibukota Soreang itu.

Berdasarkan data yang diterima penulis, terdapat dua desa dikawasan Bandung selatan yang sudah memanfaatkan energi tersebut yakni Desa Pangalengan, di Kecamatan Pangalengan; dan Desa Cisondari, di Kecamatan Pasirjambu. Kini energi terbarukan itu pun telah digunakan sebagai pengganti gas elpiji.

Bahan baku penghasil energi biogas dihasilkan dari 192 ekor sapi. Kotoran sapi yang dihasilkan dari sekitar 3 ekor hingga 4 ekor bisa dimanfaatkan untuk satu unit biodigester dengan kekuatan sekitar 4 kubik dan setara penggunaan biogas untuk 4 jam hingga 5 jam dalam satu harinya.

Untuk memaksimalkan energi terbaruPemkab Bandung memberikan berbagai bantuan seperti 14 biodigester di dua desa yakni Pangalengan dan Cisondari. Selain itu, dilengkapi pula kompor, lampu patromax dan rumah kompos untuk  kelompok ternak sesuai sasaran DME.

Ketua Kelompok Tani dan Ternak Sukamenak Rega Kusmana mengatakan, saat ini pihaknya sudah memiliki 28 unit  biodigester yang sebagiannya bantuan dari pemerintah yang dimanfaatkan kelompok ternak diwilayahnya.

"Sejak 2012 berjalan hingga saat ini, manfaat energi terbarukan itu sangat terasa bagi para peternak yang utamanya bisa mengganti gas elpiji. Hasil pembuangan limbahnya juga bisa untuk pupuk organik yang digunakan petani," ujarnya.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat untuk memanfaatkan teknologi seluri yang merupakan air dari limbah kotoran. Demi mengurangi beban pemerintah dalam subsidi elpiji karena sudah dimanfaatkan lebih dari 20 kepala keluarga.

"Disatu sisi juga menambah pendapatan para peternak dengan memanfaatkan ampas biogas sebagai pupuk organik dan media beternak cacing," tandasnya.

Rabu, 03 Januari 2018

Ingin Ubah Mindset Masyarakat Soal Komunitas Mobil

(foto: Cindy Claudia/ dok penulis)
Seorang wanita menyetir mobil memang sudah biasa. Namun, bila akhirnya memilih untuk bergabung didalam sebuah komunitas yang sejauh ini masih identik dengan para kaum adam bukanlah suatu perkara mudah.

Selain harus beradaptasi juga dituntut bisa berbaur dengan lingkungan yang jauh dari zona nyamannya. Apalagi mengikuti serangkaian kegiatan touring dimana menghabiskan waktu di perjalanan yang seolah melekat didalamnya.

Namun bagi Cindy Claudia, 22, beberapa hal itu lah yang ternyata menarik minatnya untuk masuk menjadi anggota komunitas mobil mewah Bandung Yaris Community (BYCOM). Ini juga selaras dengan kecintainya dibidang otomotif. 

Bahkan, gadis berparas cantik yang kini tengah menjalani pendidikan di Universitas Maranatha Bandung itu didaulat menjadi ketua di komunitas tersebut sejak November tahun 2014. Warga Sukajadi, Kota Bandung ini juga menjadi wakil ketua di Toyota Club Indonesia (TYCI) Chapter Bandung.

Saat berbincang dengan penulis, Cindy mengaku banyak mendapatkan berbagai pengalaman positif setelah bergabung pada tahun 2012 dengan komunitas yang saat ini dipimpinnya. Sebab, bukan sekedar berkumpul dan menikmati sensasi perjalanan tetapi segudang kegiatan sosial juga menjadi agenda rutin

 “Disatu sisi saya juga ingin mengubah mindset masyarakat terkait penilaiannya pada club (komunitas) otomotif yang masih dianggap negatif. Disini saya ingin membuktikan bila penilaian itu salah,” ujar pecinta warna biru itu.

Diusianya yang relatif muda, lebih dari 13 daerah di Indonesia seperti Purwakarta, Sukabumi, Pangandaran, Anyer, Solo, hingga Padang, pernah disinggahi bersama anggota komunitas dalam kurun waktu 3 tahun terakhir sekaligus ditemani dengan mobil kesayangannya.

Walau diakui Cindy untuk mengemudi dengan jarak jauh bukan masalah sepele namun ada sensasi saat tiba di kota tujuan. “Waktu touring ke Padang, rasanya seneng banget, dan seru. Malahan saya fikir itu pengalaman seumur hidup yang ga pernah bakal bisa terulang," ungkap Marketing PT. Pantja Artha Niaga.

Pengoleksi jaket dan pernak pernik hotwells itu juga menuturkan bila hobinya ini bukan tanpa kendala sebab sempat tak mendapat dukungan dari orang tua. Seiring berjalannya waktu Cindy yang bercita-cita ingin menjadi Pengacara itu berhasil membuktikan pilihannya jika hobi tak akan menganggu kesibukannya.

“Saya juga menyarankan agar para kaula muda di luar sana lebih selektif memilih komunitas. Carilah yang bikin nyaman dan bisa dukung passion kita ke arah yang baik. Karena manfaat lain bergabung dengan komunitas itu bikin kita banyak relasi dan belajar banyak hal langsung dari pakarnya,” tandas dia.

Peringati Maulid Nabi, Oded Ajak Umat Muslim Ikuti Jejak Nabi Muhammad SAW

(Wali Kota Bandung Oded M Danial) Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Wali Kota Bandung Oded M Danial mengajak umat muslim mengikuti jeja...